Kumpulan Cerpen Anak Dunia Terbaik untuk Tumbuh Kembang si Kecil

Membacakan cerpen anak dunia yang memiliki pesan moral memiliki banyak sekali manfaat untuk si kecil. Dari setiap dongeng cerita pendek yang kami posting hari ini terdapat berbagai pelajaran didalamnya. Cerita ini juga bisa dijadikan media untuk pengajaran karakter pada anak. Anak menjadi mudah memahami mana yang baik dan mana yang buruk ketika dia mendengar dongeng sebelum mereka tidur. Yuk papa mama kita sering ceritakan dongeng pendek ini sebelum mereka tidur.

Koleksi Cerpen Anak Dunia Terbaik Untuk Anak Indonesia

Contoh Cerpen Anak Sekolahan dari Jepang : Kaguya Hime (Putri Bambu)

Konon pada zaman dahulu kala hiduplah seorang kakek dan nenek yang miskin namun baik hati. Mereka hanya hidup berdua dan tidak mempunyai seorang anak pun. Pekerjaan sehari-hari mereka adalah membuat keranjang dari bambu.

Karena itu hampir setiap hari kakek pergi ke hutan untuk memotong beberapa batang bambu. Bambu itu kemudian dibelah untuk dijadikan bahan pembuat keranjang.

Advertising
Advertising

Suatu hari sang kakek sedang pergi ke hutan bambu untuk memotong bambu. Saat ia memilih-milih bambu, tiba-tiba ia melihat sebatang pohon bambu yang bersinar keemasan.

Cerpen Anak Sekolahan dari Jepang Kaguya Hime Putri Bambu

Pohon bambu tersebut seakan-akan meminta kakek agar segera menebangnya. Kakek pun memotong pohon bambu itu. Betapa terkejut hatinya setelah memotong sebuah bambu karena dari dalamnya muncul sinar keemasan.

“Apa ini ya? tanya kakek dalam hati. Lalu didekatinya batang bambu yang mengeluarkan sinar keemasan itu. Ternyata dari dalam batang bambu tersebut terdapat seorang bayi perempuan yang mungil. Dengan gembira kakek membawa bayi itu pulang ke rumah.

Kakek dan nenek merawat bayi perempuan itu dengan penuh kasih sayang. Mereka menamakannya Kaguya.

Sejak saat itu setiap kali kakek ke hutan untuk memotong bambu, ia selalu menemukan sebatang pohon bambu yang bersinar keemasan. Setelah dipotongnya ternyata batang bambu tersebut berisi uang emas. Dengan uang emas itu mereka tidak perlu lagi bekerja keras.

Mereka hidup berkecukupan dalam membesarkan putri mereka.

Kaguya tumbuh menjadi seorang putri yang sangat cantik jelita. Rambutnya hitam bersinar, kulitnya kuning keemasan, dan wajahnya pun seakan-akan mengeluarkan cahaya yang menyilaukan mata.

Berita tentang kecantikannya tersiar ke seluruh penjuru negeri. Setiap hari datang berbagai macam pria yang ingin meminangnya. Tetapi sang putri selalu menolaknya. Suatu hari datanglah lima orang yang ingin meminang sang putri.

Sang putri memberikan lima buah syarat yang sangat berat kepada mereka.

Pria pertama bertugas mencarikan mangkuk asli sang Budha yang dapat mengeluarkan cahaya kemilauan. Pria kedua bertugas mencarikan bunga Azaela emas dan perak seperti dalam legenda. Pria ketiga bertugas mencarikan tikus api dari China. Pria keempat bertugas mencarikan permata naga yang berwarna-warni. Sedangkan pria kelima bertugas mencarikan kerang laut burung walet.

Namun setelah ditunggu beberapa waktu lamanya, kelima pria itu datang dengan membawa benda-benda palsu semua. Pria pertama membawa mangkuk biasa yang tidak mengeluarkan sinar sama sekali. Pria kedua datang dengan membawa tanaman bunga Azaela dengan sepuhan emas dan perak. Pria ketiga membawakan tikus-tikus yang bulunya diwarna dengan pewarna merah. Pria keempat membawakan batu permata biasa. Sedangkan pria kelima juga hanya membawakan kerang yang ia temukan di pantai.

Akhirnya kelima pria itu tidak satupun yang berhasil meminang sang putri. Mereka pulang ke negerinya masing-masing dengan kecewa.

Tahun demi tahun berlalu. Putri Bambu dengan telaten mengurus Kakek dan Nenek. Pada tahun kelima, Nenek meninggal. Putri Bambu sedih sekali. Sejak saat itu, ia sering duduk termangu dan memandang bulan purnama.

Suatu hari di musim gugur, dengan mata berkaca-kaca sang putri menatap cahaya bulan di langit.

contoh cerita pendek anak SD Putri Bambu

“Putriku, apa yang sedang kau pikirkan?” tanya kakek dengan khawatir.

“Kakek, saat ini saya sedang sedih. Saya sebenarnya berasal dari negeri Bulan. Tanggal 15 bulan ini saya akan dijemput untuk kembali pulang ke negeri saya kata sang putri dengan berlinang air mata.”

Mendengar penjelasan sang putri, betapa sedih hati kakek apalagi dia saat itu sedang sakit. Dia tidak ingin kehilangan putrinya. Maka sang Kakek melaporkan kepada penguasa daerah setempat agar mengirimkan pasukannya untuk menjaga sang putri.

“Aku tidak akan membiarkan mereka membawamu,” kata Kakek.

“Itu percuma. Tidak ada seorang pun yang bisa menghalangi,” kata Kaguya Hime.

Kakek meminta bantuan kaisar. Kaisar berjanji akan mengirim semua prajuritnya untuk menghalangi kepergian Kaguya Hime.

Pada malam bulan purnama berikutnya, ribuan prajurit kaisar berjaga di sekeliling rumah Kakek. Kaguya Hime menemui Kakek yang terbaring di kamarnya. Penyakit yang diderita Kakek sudah sangat parah.

“Sekarang aku tahu mengapa kau harus pergi,” kata Kakek dengan suara Iemah.

“Itu karena aku pun akan pergi. Terima kasih untuk semua kebahagiaan yang kau bawa kepada kami,” kata Kakek kembali.

Kemudian, Kakek penebang bambu pun meninggal dengan tenang. Kaguya Hime menangis tersedu-sedu.

Semakin malam, bulan semakin mencapai puncaknya. Lalu, muncul cahaya seperti sebuah jembatan menghubungkan bulan dan bumi. Dari jembatan itu, datang beberapa sosok putih.

Para prajurit penjaga terkejut melihat pemandangan itu. Mereka hendak bergerak, namun tubuh mereka mendadak menjadi kaku seperti batu.

Kaguya Hime mendekati sosok-sosok putih itu. “Aku siap,” katanya.

Salah satu sosok putih memasangkan mantel putih kepadanya. la dan sosok sosok itu melayang ke langit meninggalkan jejak kabut putih dan lembut. Rombongan mereka melewati puncak gunung Fujiyama dan naik ke bulan.

Sampai sekarang, orang Jepang masih sering melihat kabut tipis bergerak melewati puncak gunung Fujiyama, lalu menuju bulan purnama. Mereka yakin itu adalah “orang-orang bulan” yang pulang setelah memberikan kebahagiaan kepada manusia di bumi.

Cerita lengkap Putri Bambu dapat dibaca pada posting berikut ini:

Contoh Cerpen Anak Singkat : Seruling Sakti

Alkisah, pada zaman dahulu terdapat sebuah kota yang terletak di kaki bukit. Kota itu bernama Hamelyn. Penduduk yang tinggal di sekitarnya hidup dengan aman dan damai, namun perilaku mereka terhadap kebersihan lingkungan sangat memprihatinkan.

Mereka membuang sampah di sembarang tempat, hingga akhirnya menjadi sarang tikus. Semakin hari jumlah tikus terus bertambah dan kota pun dipenuhi oleh kawanan tikus.

Para tikus tersebut berkeliaran di mana-mana. Mereka bergerak bebas di mana saja tanpa merasa takut akan kehadiran manusia. Untuk mengatasinya, sebagian penduduk kota ini mencoba memelihara kucing. Selain itu, ada pula yang memasang berbagai perangkap untuk membunuh atau membinasakan para tikus. Namun, semua usaha yang dilakukan seakan sia-sia belaka.

Jumlah tikus malah semakin bertambah banyak. Penduduk menjadi bersusah hati dan mati akal bagaimana untuk melenyapkan tikus-tikus tersebut.

Musibah yang menimpa Kota Hamelyn ternyata telah tersebar luas hingga ke kota-kota lain di sekitarnya. Dari salah satu kota tersebut ada seorang pemuda yang datang ke Hamelyn untuk menawarkan diri menghalau semua tikus yang berkeliaran. Sebagai imbalannya, sang pemuda meminta upah sebasar dua keping emas kepada setiap orang yang ada di Hamelyn.

Warga masyarakat Hamelyn segera memusyawarahkan tawaran sang pemuda. Dan, setelah berunding panjang-lebar, akhirnya mereka setuju untuk membayar walaupun sangat mahal karena tidak mempunyai pilihan lain.

Setelah dicapai kata sepakat, sang pemuda lalu pergi ke tengah lapangan. Ia kemudian mengeluarkan sebuah seruling dan mulai meniupnya. Suara yang keluar dari seruling itu sangat merdu dan melenakan siapa saja yang mendengarnya (manusia maupun binatang).

Para tikus yang mendengarnya seakan terhipnotis dan mulai keluar dari sarang mereka untuk berkumpul di sekeliling sang pemuda. Ia lalu berjalan perlahan-lahan sambil tetap meniup seruling menuju ke sebuah sungai yang letaknya di pinggir Kota Hamelyn.

Setelah sampai, sang pemuda langsung menceburkan diri ke tengah sungai. Hal ini diikuti pula oleh kawanan tikus. Ternyata para tikus tersebut tidak dapat berenang, sehingga seluruhnya mati lemas.

Saat kota telah terbebas dari hama tikus, sang pemuda kemudian menagih janji kepada para penduduk. Namun para penduduk ternyata enggan untuk membayar.

Mereka menganggap bahwa kerja sang pemuda yang hanya meniup seruling tidaklah sepadan dengan upah yang dimintanya. Sang pemuda menjadi marah. Ia lalu meniup serulingnya lagi dengan nada yang berbeda.

Irama yang keluar dari seruling itu ternyata sangat memikat hati kanak-kanak dan segera mengikuti si pemuda pergi keluar dari Kota Hamelyn. Sedangkan bagi orang dewasa yang mendengarnya, seakan terlena dan tidak menyadari keadaan di sekitarnya.

Ketika sang pemuda telah berada di batas kota, barulah penduduk Hamelyn sadar kalau anak-anak mereka juga dibawa serta. Mereka lalu berlari menyusul sang pemuda hingga ke perbatasan Kota Hamelyn.

Saat bertemu sang pemuda, mereka lalu merayunya dengan janji akan memberikan puluhan keping emas asal mau mengembalikan anak-anak mereka.

Namun, bujuk rayu penduduk Hamelyn tidak diindahkan oleh Sang Pemuda. Sambil terus memainkan suling ia membawa anak-anak menuju sebuah gua yang letaknya agak jauh dari batas Kota Hamelyn. Dan, setelah seluruh anak masuk bersama Sang Pemuda, secara tiba-tiba gua tersebut lenyap dari pandangan.

Para penduduk yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa menyesal. Mereka menyesal karena telah berbuat ingkar pada sang pemuda yang akhirnya harus ditebus dengan menghilangnya anak-anak mereka.

Baca juga :

Contoh Cerpen Anak Sekolah Dasar : Hikayat Bunga Kemuning

Pada zaman dahulu kala ada seorang raja yang dikenal arif dan bijaksana. Ia memiliki sepuluh orang puteri berparas cantik jelita bernama Puteri Jambon, Puteri Jingga, Puteri Nila, Puteri Hijau, Puteri Kelabu, Puteri Oranye, Puteri Merah Merona, dan Puteri Kuning.

Tetapi karena terlalu sibuk mengatur kerajaan, sang raja tidak sempat mendidik mereka dengan baik. Sementara sang isteri telah meninggal dunia ketika melahirkan puterinya yang bungsu.

Sang raja terpaksa menyerahkan pengasuhan anak-anaknya pada inang pengasuh kerajaan.

Ternyata sang inang pengasuh tidak kuasa mengasuh seluruh puteri raja. Hanya si bungsulah, yaitu Puteri Kuning yang berhasil didik dengan baik hingga menjadi anak yang selalu riang, ramah pada setiap orang dan memiliki budi pekerti baik.

Sementara kakak-kakaknya tumbuh menjadi anak manja dan nakal. Mereka tidak mau belajar dan membantu Sang Raja.

Setiap hari kakak-kakak Puteri Kuning kerjanya hanya bermain di sekitar danau dan atau bertengkar memperebutkan sesuatu.

Suatu hari Sang Raja hendak berkunjung ke kerajaan lain dalam rangka menjalin silaturrahim. Untuk itu ia mengumpulkan seluruh puteri-puterinya.

Kepada mereka Sang Raja berkata, “Aku hendak pergi ke kerajaan lain selama beberapa minggu. Buah tangan apa yang kalian inginkan?”.

Tanpa menimbang-nimbang lagi, si sulung (Puteri Jambon) berkata, “Aku ingin perhiasan yang mahal.”

Permintaan yang hampir serupa mahal dan mewahnya juga diajukan oleh adik-adik Puteri Jambon.

Hanya Puteri Kuning sajalah yang mendekat dan memegang lengan ayahnya sambil berkata, “Aku hanya ingin ayah kembali dengan selamat.”

“Sungguh baik perkataanmu, wahai puteriku. Mudah-mudahan saja aku dapat kembali dengan selamat dan membawakan hadiah yang indah untukmu,” kata sang raja.

Singkat cerita, setelah Sang Raja pergi kelakuan anak-anaknya malah menjadi semakin nakal dan malas. Bukannya bersedih, mereka malah merasa gembira karena selain Sang Raja, di seluruh kerajaan tidak ada yang berani melarang.

Kesempatan ini mereka pergunakan untuk membentak dan menyuruh para inang pelayan sekehendak hati. Para inang pun menjadi sibuk sehingga tidak sempat membersihan taman istana kesayangan Sang Raja.

Melihat hal itu Puteri Kuning segera mengambil sapu dan mulai membersihkan taman kesayangan ayahandanya. Dedaunan kering dirontokkannya, rumput liar dicabutnya, dan dahan-dahan berlebih dipangkasnya agar terlihat lebih rapi.

Sementara kakak-kakaknya yang melihat Puteri Kuning sibuk di taman, malah mencemooh. “Lihat, tampaknya kita memiliki pelayan baru,” kata salah seorang diantaranya.

“Hai pelayan! Kami masih melihat banyak kotoran di sini!” ujar salah seorang kakaknya sambil melemparkan sampah ke arah taman.

Sejurus kemudian, mereka pun langsung menyerbu dan mengacak-acak taman. Dan, setelah puas mengacak-acak taman lalu pergi begitu saja menuju danau untuk bermain sambil berenang. Begitu kelakuan kakak-kakak Puteri Kuning setiap harinya hingga ayah mereka pulang.

Ketika Sang Raja pulang, ia hanya mendapati Puteri Kuning sedang merangkai bunga di teras istana, sementara kesembilan kakaknya sedang asyik bermain di danau. Ia agak kecewa karena telah bersusah payah membawakan buah tangan tetapi tidak disambut dengan hangat oleh anak-anaknya.

Hanya Puteri Kuninglah yang berlari sendirian untuk menyambutnya dengan rasa suka cita.

Sambil berjalan menuju teras, Sang Raja berkata, “Anakku yang rajin dan baik budi. Ayah hanya dapat memberimu sebuah kalung batu hijau. Ayahanda telah mencari di seluruh pelosok kerajaan seberang tetapi tidak menemukan kalung batu kuning seperti warna kesayanganmu”.

“Sudah tidak mengapa, Ayahanda. Kalung batu hijau juga akan serasi dengan warna bajuku,” kata Puteri Kuning lemah lembut.

Keesokan harinya, walau seluruhnya telah diberi cinderamata, tetapi masih saja ada yang iri. Salah satunya Puteri Hijau yang melihat Puteri Kuning memakai kalung batu hijau segera menghampiri.

“Wahai adikku, seharusnya kalung itu milikku karena berwarna hijau. Kenapa sampai ada di lehermu?” tanya Puteri Hijau dengan perasaan iri.

“Ayah memberikannya padaku,” sahut Puteri Kuning singkat dan jelas.

Puteri Hijau tidak terima penjelasan Puteri Kuning. Dia segera berlari pergi menemui saudari-saudarinya yang lain.

“Kalung hijau yang dipakai Si Kuning sebenarnya milikku. Tetapi dia mengambilnya dari saku ayah!” katanya menghasut ke delapan saudarinya.

Mendengar hasutan Puteri Hijau saudari-saudarinya menjadi panas hati. Mereka kemudian bersepakat untuk merampas kalung itu dari tangan Puteri Kuning.

Kesembilan adik-beradik tersebut lalu bersama-sama menemui puteri hijau. Setelah bertemu, mereka langsung memaksa Puteri Hijau untuk menyerahkan kalungnya. Tentu saja ia menolak dan akhirnya terjadilah perkelahian sengit hingga kepalanya terkena pukulan dan meninggal saat itu juga.

“Dia meninggal!” seru Puteri Jingga panik.

“Kita harus menutupi kejadian ini,” kata Puteri Merah Merona.

“Kalau begitu kita harus cepat menguburkannya agar Ayahanda dan seisi istana tidak mengetahui kejadian ini!” kata Puteri Jambon kepada saudari-saudarinya.

Sepakat dengan Sang Kakak (Puteri Jambon), mereka pun lantas beramai-ramai mengusung jasad Puteri Kuning untuk dikuburkan di tengah taman istana. Bersama jasad Sang Puteri Kuning, turut pula dikuburkan benda yang menjadi bahan perebutan, yaitu kalung batu hijau. Benda ini dikuburkan sendiri oleh Puteri Hijau yang memicu ada pertengkaran dan perkelahian dengan Puteri Kuning.

Sore harinya, entah mengapa Sang Raja merasa kangen dan ingin berbincang dengan Puteri Kuning di taman istana tempatnya biasa bermain. Namun, karena tidak menemukannya, dia lalu memanggil para puterinya yang lain untuk menanyakan keberadaan adik bungsu mereka. Satu per satu ditanyainya, tetapi tidak ada seorang pun yang mau berterus terang. Mereka memilih tutup mulut dan pura-pura tidak mengetahui keberadaan Puteri Kuning.

Khawatir akan keberadaan dan keselamatan puteri bungsunya, raja lalu menitah para pengawal kerajaan untuk mencarinya ke seluruh penjuru istana. “Hai, para pengawal! Cari dan temukanlah Puteri Kuning!” teriaknya gusar.

Pencarian Puteri Kuning selama berhari-hari hingga berminggu-minggu di seluruh penjuru istana tentu saja sia-sia belaka karena telah dikubur sangat rapi oleh saudari-saudarinya hingga tidak ada bisa menyangkanya. Hal ini membuat Sang Raja menjadi sangat sedih dan menyesal karena tidak mampu menjaga, merawat, dan mengarahkan puteri-puterinya. Mereka tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang egois, tidak peduli terhadap sesama serta tidak patuh terhadap nasihat orang tua. Oleh karena itu Sang Raja segera mengirimkan mereka ke negeri seberang untuk belajar budi pekerti. Tujuannya, agar mereka menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur dan dapat saling menjaga antara satu dengan lainnya.

Beberapa minggu setelah para puteri raja belajar budi pekerti di negeri seberang, tumbuhlah sebuah tanaman di atas kubur Puteri Kuning.

“Tanaman apakah ini?” seru Sang Raja heran. “Batangnya bagaikan jubah Puteri Kuning, daunnya bulat berkilau bagai kalung batu hijau, sementara bunganya putih kekuningan dan berbau sangat wangi! Tanaman ini mengingatkanku pada Puteri Kuning,” tambahnya.

Sejak saat itulah bunga tersebut diberi nama bunga kemuning karena mengingatkan raja pada Puteri Kuning. Dan, sama seperti Puteri Kuning, bunga kemuning memiliki banyak kebaikan. Bunganya dapat digunakan untuk mengharumkan rambut, batangnya dapat dipakai untuk membuat kotak-kotak indah, dan kulit kayunya dapat ditumbuk untuk dijadikan bedak penghalus wajah.

Baca juga:

Cerpen Anak TK : Kera dan Kura – kura

Alkisah, ada seekor kera dan seekor kura-kura hidup di dalam sebuah hutan. Mereka hidup bersahabat. Kura-kura menjalin persahabatan secara tulus karena merasa bahwa hidup harus saling berdampingan dan tolong menolong. Sementara persahabatan yang dijalin Kera didasarkan pada azas pemanfaatan. Dalam hal ini, Kera sekadar hanya memanfaatkan kura-kura untuk kepentingan dirinya sendiri.

Misalnya, bila bepergian ke suatu tempat, Sang Kera selalu naik di atas punggung Kura-kura dengan alasan sakit, lelah, dan sebagainya. Tetapi hal ini tidak membuat Kura-kura menjadi sakit hati. Dia masih beranggapan kalau hidup tidak bisa dijalani seorang diri. Harus ada makhluk lain untuk saling bantu agar hidup lebih mudah dijalani.

Anggapan inilah yang membuat Kura-kura tetap diam walau “dikerjai” oleh Kera. Misalnya lagi, ketika mereka berjumpa dengan sebuah pohon yang sedang berbuah lebat, Kera dengan gesit langsung memanjatnya, sementara Kura-kura disuruh menunggu di bawah pohon. Setelah perutnya kenyang barulah Kera turun dengan hanya membawa beberapa buah saja dalam kondisi mulai membusuk.

“Aduh Kura-kura, di atas pohon ternyata buahnya telah banyak dimakan kelelawar dan musang. Hanya tinggal buah-buah yang agak busuk inilah yang dapat di petik untukmu,” ujar Sang Kera berkilah.

Begitulah bentuk persahabatan yang dijalin oleh Kura-kura dan Kera hingga suatu hari datanglah musim kemarau panjang. Situasi ini membuat pepohonan di hutan menjadi layu dan tidak berbuah. Agar tidak kelaparan, Kera dan Kura-kura yang sedang berteduh di bawah pohon dekat tepi sungai mengadakan pembicaraan.

“Apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi musim kemarau ini?” tanya Kera membuka pembicaraan.

Kura-kura tidak menjawab karena dia tidak pernah berpikir terlampau berat. Hidup dijalaninya begitu saja laksana air mengalir.

Tanpa menunggu jawaban Kura-kura, Kera bertanya lagi, “Bagaimana kalau kita menanam pisang saja karena cepat berbuah?”

“Dari mana kita memperoleh bibitnya?” tanya Kura-kura singkat.

“Kita tunggu saja di tepi sungai ini. Biasanya manusia akan membuang segala macam sampah ke sungai, termasuk pisang,” kata Kera.

Setelah terjadi kesepakatan, mereka segera membuka sebidang tanah di hutan untuk dijadikan kebun. Selanjutnya, mereka menunggu lagi di tepi sungai selama beberapa hari hingga akhirnya melihat seonggok batang pisang yang hanyut bersama aliran sungai.

Sama seperti biasanya, Kera berusaha memanfaatkan persahabatan mereka untuk memperdaya Kura-kura. Dia menyuruh Kura-kura berenang ke tengah sungai mengambil onggokan batang pisang itu. Alasannya, Kura-kura lebih pandai berenang, sementara dirinya sendiri tidak pandai berenang karena takut air.

Bagi Kura-kura perkataan Kera tersebut merupakan sebuah sanjungan karena ia memang terbiasa hidup di air. Oleh karena itu, Kura-kura dengan gembira langsung menceburkan diri ke sungai dan berenang menghampiri serta membawa batang pisang tersebut untuk diserahkan pada Kera.

Sesampainya di darat batang pisang itu mereka bagi dua secara “adil”, menurut anggapan Kera. Caranya dengan membaginya menjadi dua bagian sama panjang. Bagian atas milik Kera, sementara bagian bawah untuk Kura-kura. Kura rupanya tahu bahwa buah pisang selalu tumbuh pada bagian atas.

Tetapi,walau mengambil bagian atas batang pisang, ternyata milik kera tidak tumbuh sesuai perkiraannya. Bahkan, batang itu menjadi layu dan kemudian mati. Sementara batang pisang milik Kura-kura malah tumbuh dengan subur dan akhirnya berbuah lebat karena setiap hari selalu dirawat dengan disirami menggunakan air sungai.

Setelah buah pisang milik Kura-kura masak, datanglah Sang Kera dengan siasat liciknya. “Hai Kura-kura, aku lihat buah pisang milikmu telah masak semua,” kata Kera.

“Iya,” Jawab Kura-kura singkat.

“Bolehkan aku memintanya sedikit saja,” tanya Kera.

“Boleh, tetapi aku tidak bisa memanjat,” jawab Kura-kura.

“Apalah artinya sahabat kalau tidak saling membantu. Aku akan memanjat dan memetiknya untukmu,” kata Kura licik.

Tanpa berpikir panjang Kura-kura menyetujuinya sehingga Kera dengan sigap langsung memanjat pohon pisang yang telah ranum buahnya tersebut. Sesapainya di pucuk pohon, dia langsung memakan buah-buah pisang masak hingga puas, sementara pemiliknya hanya dapat menunggu di bawahnya dengan hati yang mendongkol. Begitu setiap hari hingga tidak ada lagi buah pisang yang tersisa.

Kisah Cerita Anak Kura-kura dan Monyet Pembohong

Singkat cerita, sejak saat itu Kura-kura mengetahui bahwa persahabatannya dengan Kera hanya didasarkan atas asas pemanfaatan salah satu pihak saja. Dalam hal ini dirinya menjadi pihak yang dimanfaatkan Kera. Untuk mencegah agar tidak dimanfaatkan oleh Kera lagi, Kura-kura memilih untuk menghindarinya. Sejak saat itu, Kura-kura akan langsung bersembunyi atau pergi menghindar ketika mendengar suara Kera dari jauh.

Ketika kemarau datang lagi pada musim berikutnya dengan membawa cuaca yang sangat panas, Kera pun berusaha menemukan Kura-kura untuk bersama-sama mencari makanan. Tetapi, setelah berjalan kesana kemari Kera tidak menemukan sahabatnya. Karena kelelahan, Kera akhirnya memutuskan beristirahat di bawah sebuah pohon yang masih agak rindang. Kera tidak sadar kalau “batu” tempatnya duduk beristirahat tiada lain adalah punggung Kura-kura yang juga sedang beristirahat dengan menyembunyikan kepala dan kakinya di dalam cangkang.

Entah mengapa, Kera merasa bahwa di sekitar tempatnya beristirahat mungkin ada Kura-kura. Kera pun iseng memanggil nama sahabatnya itu, “Kura-kura kemarilah. Kita sudah lama tidak bersua.”

Tanpa disangka-sangka, dari dalam “batu” tempat duduk Kera keluarlah sebuah suara, “Kuuuuwuk….”

“Kamukah itu Kura-kura?” tanya Kera penasaran.

“Kuuuwuuuk…,” kata Kura-kura dari dalam cangkangnya.

Mendengar suara yang datangnya dari tempatnya duduk, Kera menjadi marah. Bahkan sangat marah karena mengira suara itu berasal dari alat kelaminnya yang sedang mengejek. Dengan geram, dia mengancam, “Jika berani mengejekku lagi akan aku hancurkan kamu!”

Kemudian ia berteriak lagi, “Kura-kuraaaaaa, kemarilah.”

Tetapi jawaban yang diterima hanyalah kata “kuwuk” yang disangka berasal dari “alat kelaminnya sendiri”.

Kemarahan Kera pun akhirnya memuncak dan langsung mengambil batu lalu memukulkannya berkali-kali pada alat kelaminnya sendiri. Walau melolong karena sakit yang luar biasa, Kera tetap saja memukuli alat kelaminnya sendiri hingga hancur. Dan, ketika Kura-kura menjulurkan kepala hendak menolongnya, ternyata Kera telah meregang nyawa dan akhirnya mati. Kera yang licik itu mati karena ulahnya sendiri.

Sumber dan Pranala Luar: