Kumpulan Dongeng Tentang Binatang (Hewan) Terbaik

Dongeng Binatang Kancil dan Burung Puyuh masuk dalam kumpulan dongeng tentang binatang (hewan) terbaik yang kami miliki. Kisah ini menceritakan si Kancil yang cerdik yang membantu rekan-rekannya untuk membalas dendam. Adik-adik harus ingat membalas dendam bukan perbuatan yang baik yah. Jadi adik-adik jangan meniru perbuatan si Kancil dan teman-temannya. Jika ada teman yang berperilaku buruk, berikan nasihat dengan cara yang baik agar dia mau merubah sifatnya. Yuk kita ikuti dongeng binatang singkat (fabel) yang satu ini.

Kumpulan Dongeng Tentang Binatang (Hewan) Terbaik : Kancil dan Burung Puyuh

Pak Congkak adalah seorang pedagang yang sangat kaya raya dan sangat sombong. Ia sangat di benci oleh penduduk yang tinggal di desanya. Bahkan binatang di sekitarnya pun memusuhinya. Hampir pada setiap pertemuan, mereka sering mebicarakan kejahatan Pak Congkak.

Suatu hari kayu kopi mengadukan nasibnya. ‘’ Perhatikan badanku ini yang bengkak-bengkak, kulitnya lecet-lecet, luka ku ini akibat tali Kambing Pak Congkak yang di ikatkan pada tubuhku.” Kata kayu kopi kepada Puyuh. Burung Puyuh juga pernah di lempari batu di pekarangan Pak Congkak.

‘’ Kita cari teman untuk membalas dendam kepada Pak Congkak.’’ Kata Puyuh.

Kumpulan Dongeng Tentang Binatang Hewan Terbaik

Mereka berdua mencari sahabat yang ada di sekitar kawasan hutan itu. Ketika mereka sedang menunggu. Akhirnya, mereka bertemu dengan si Kancil yang terkenal sangat cerdik

Mereka membuat siasat untuk menghadapi Pak Congkak. Tapi kancil merasa tidak bisa bertindak sendiri.’’ Aku mau membantu kalian, tapi aku butuh bantuan dari yang lain.’’

Melihat ada tanggapan dari si Kancil. Puyuh sangat bersemangat sambil berkata. ‘’ nah, aku akan cari satu teman lagi untuk membantu.’’

Mereka berjalan bersama-sama dan mereka menemukan napal (tanah liat yang sangat licin. Biasanya tanah liat ini terdapat di lereng-lereng bukit sekitar hutan lindung). Mereka berempat langsung mempersiapkan siasat untuk menghadapi Pak Congkak agar tidak sombong lagi.

Malam harinya. Pak Congkak sedang tertidur pulas. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa nanti ada bahaya yang akan menimpa dirinya. Malam itu juga ke empat sekawan mulai beraksi. Salah satu dari mereka ada yang menyelinap masuk, ada juga yang tetap tinggal di dalam rumah. Mereka mengerjakan sesuai dengan rencana yang sangat matang. Yang pertama kali bergerak adalah si Kayu Kopi. Ia mengetuk pintu.

Pak Congkak sangat kaget sekali ada yang orang yang mengetuk pintu di malam hari. ‘’ Ada maling’’, katanya dalam hati. Pak Congkak segera bangun dari tidurnya.

Ia sangat khawatir ada orang yang membawa barang dagangannya atau merusak rumahnya. Perlahan-lahan ia menuju pintu. Tapi setelah sampai di pintu, ia sama sekali tidak melihat apa-apa. Ia segera turun dari tangga menuju dapur dan mau mencari korek api. Ketika kakinya menginjak tangga terdapat seonggok napal yang sangat licin membuatnya tergelincir dan terjatuh. Walaupun tangga itu tidak begitu tinggi. Namun, di bawah tangga ada batu-batuan yang menghantam dadanya. Maka seperti di hajar abis-abisan.

‘’ Aduh..’’ Pak Congkak berteriak keras sekali.

Keadaan itu mengejutkan Kancil yang dari tadi menunggu giliran untuk melampiaskan dendam kepada Pak Congkak. Dalam keadaan kegelapan mata Kancil bisa menembus suasana malam dengan jelas. Segera ia menerjang mata kanan Pak Congkak. Pak Congkak menjerit keras-keras. Ia benar-benar marah. Tetapi ia berusaha merangkak mendekati dapur. Tujuannya ingin mencari korek api untuk menyelakan lampu.

Ternyata di dapur sudah ada yang menunggunya, yaitu si Burung Puyuh. Ketika tangan akan menggapai korek api, tiba-tiba si burug Puyuh mengepak-ngepakkan sayapnya sehingga abu dapur berterbangan memenuhi ruangan. Dan mata kiri Pak Congkak kemasukan abu. Pak Congkak tidak bisa melihat.

Ia berlari ke sana kemari sambil berteriak kesakitan. Ia ingin menuju tangga dan berlindung di dalam kamarnya. Tetapi sapasang matanya tidak bisa melihat. Maka ia menabrak apa saja yan ada di sekitarnya.

Pak Congkak makin panik. Sepasang matanya sangat pedih dan berair. Sambil menahan rasa sakit dia berusaha merangak menuju tangga. Ia berusaha menaiki tangga meskipun badanya sudah berasa remuk karena jatuh tergelincir dari tangga tadi. Satu ank tangga telah Pak Congkak dan ia merasa sedikit lega.

Ia menahan napas. Dua anak tangga sudah dia lewati. Ketika kakinya hendak menaiki tangga yang ketiga, tiba-tiba sebuah pukulan keras dan berat bersarang di kuduknya. Pak Congkak tidak tahu sejak tadi ada kayu kopi yang menunggunya dari tadi. Kayu kopi itulah yang memukulnya hingga ia terjatuh lagi dari anak tangga.

Ia terjatuh dengan sangat keras. Kepalanya keluar darah. Ketika ia ambruk. Kayu kopi memanggil teman-temannya untuk di ajak berunding menyelesaikan sepeninggalan Pak Congkak. Sebab, Pak Congkak tidak memiliki keturunan dan ahli waris harta peninggalannya.

Keesokan harinya mereka mengundang masyarakat dan sepakat berkumpul di rumah Pak Congkak untuk berunding, satu persatu warga kampung desa Hulu Sungai mulai berdatangan, mereka juga penasaran bagaimana orang kikir itu bisa mati. Bahkan ada juga wanita ingin melihat kejadian yang cukup mengerikan itu. Pak Congkak di kerjai oleh Burung Puyuh dan kawanannya.

Mereka ingin menjadikan sebagai pelajaran hidup yang baik untuk anak cucunya. Setelah mereka berkumpul maka hasil mufakatnya adalah menguburkan Pak Congkak sebagaimana mestinya. Mengenai harta peninggalan Pak Congkak yang ada, nanti akan di bagikan kepada mereka yang membutuhkan dan yang telah berjasa kepada kampung, antara lain untuk membantu para warga yang tidak mampu dalam kehidupan sehari-hari. Kampung Hulu pun menjadi damai sejahtera.

Pesan moral dari Kumpulan Dongeng Tentang Binatang (Hewan) Terbaik adalah jangan berlaku semena-mena terhadap orang lain. Segala kebelihan yang kita miliki hendaknya kita gunakan untuk membantu sesama.

Baca cerita dongeng binatang lainnya pada posting kami yaitu Kumpulan Cerita Hewan Fabel Pendek Terbaru dan Fabel Dongeng Sebelum Tidur : Gajah Yang Baik Hati

 

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan