Kumpulan Cerita Dongeng Anak Anak

Perjalanan Raja Tilahunga yang tersohor diambil dari Kumpulan Cerita Dongeng Anak Anak sebelum tidur koleksi terbaik kami. Sifat Raja Tilahunga yang rendah hati patut dicontoh oleh kita semua. Karena memiliki amanat moral yang bagus, maka perjalanan Raja Tilahunga dapat dijadikan Contoh dongeng anak anak sebelum tidur. Dengan menceritakan Dongeng Anak Anak Indonesia dengan pesan moral yang tinggi, tanpa sadar anak akan mempraktekan sifat baik dari tokoh yang ada dalam dongeng tersebut. Yuk kita ikuti kisahnya bersama-sama.

Kumpulan Cerita Dongeng Anak Anak Sebelum Tidur

Asal mula nama daerah Tapa, Tuladenggi, dan Panthungo – Cerita Rakyat Gorontalo

Kumpulan Cerita Dongeng Anak Anak

Raja Tilahunga adalah pemimpin Kerajaan Bolango. Ia terkenal sebagai raja yang arif dan bijaksana. Rakyat sangat mencintainya.

Suatu hari, la berencana untuk mengadakan perjalanan yang cukup jauh. Oleh karena itu, ia ingin mempersiapkan segala sesuatunya dengan balk.

Semua pejabat istana dipanggil menghadap, ia berpesan, “Wahai Para Menteri, jagalah kerajaan ini selama aku pergi. Uruslah semua keperluan rakyat dengan baik, aku percaya kalian mampu melakukannya.”

Para pejabat istana menerima perintah itu dengan balk. “Baginda tak perlu khawatir, kami akan melaksanakan roda pemerintahan dengan baik meski Baginda tidak di sini,” jawab salah di antara

mereka.

Mendengar jawaban itu, Raja Tilahunga merasa lega. Sekarang ia bisa mempersiapkan rencana kepergiannya dengan tenang.

Kumpulan Cerita Dongeng Anak Anak Gorontalo

Hari keberangkatan pun tiba. Pagi itu, raja berangkat dari Bolango bersama para pengawalnya. Tujuan mereka adalah ke arah hulu. Mereka berjalan kaki menyusuri bukit yang terjal, sungai yang deras, dan banyak rintangan lainnya. Meski demikian, semua hambatan itu tak menyurutkan niat Raja Tilahunga.

Saat mereka melintasi sebuah bukit, Raja melihat paras para pengawainya yang mulai pucat. Mereka tampak kelelahan. Sebagai raja yang bijaksana, ia pun memerintahkan mereka untuk beristirahat.

“Aku rasa sekarang saatnya kita beristirahat.” Para pengawal sangat senang. Mereka berhenti lalu duduk bergerombol di tanah sambil melepas lelah.

Raja Tilahunga senang melihat keakraban para pengawalnya. Ia juga duduk di tanah. Sebelumnya, ia melepaskan semua atribut kerajaan yang dikenakannya. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa dirinya tak berbeda dengan para pengawainga. Atribut-atribut itu ia letakkan di tanah.

Bukit tempat Raja Tilahunga dan para pengawalnya beristirahat ini kemudian dikenal sebagai BukitTapa, yang berasal dari kata tapatopo gang berarti meletakkan sesuatu untuk sementara. Dalam hal ini adalah jabatan raja.

Kumpulan Cerita Dongeng Anak Anak Rakyat Gorontalo

Setelah cukup beristirahat, mereka melanjutkan perjalanan. Semakin jauh mereka berjalan, semakin berat medan yang ditempuh. Matahari semakin tinggi, panas mulai menyengat. Raja Tilahunga tahu bahwa pengawalnya sudah lelah dan lapar. Ia tak ingin memaksa mereka untuk terus berjalan.

“Berhenti, hari sudah siang. Sebaiknya kita makan dulu, bukalah perbekalan kalian,” perintahnya.

Para pengawal mengambil tempat di atas padang rumput yang hijau dan mulai membuka bekal yang mereka bawa. Mereka mengeluarkan buah- buahan dan minuman. Namun saat hendak makan, salah satu pengawal bernama Denggi berbuatcurang. Ia mengambil jatah makanan lebih banyak dari teman-temannya. Mengetahui keserakahan Denggi, teman-temannya menjadi marah. Keributan pun tak terelakkan.

Raja Tilahunga berusaha menengahi keributan tersebut. Ia menegur, “Denggi, kau seharusnya malu dengan perbuatanmu. Kita semua sama- sama lapar, bahkan aku pun tak meminta makanan lebih banyak daripada yang kalian makan.”

Dengan malu, Denggi mengembalikan makanan yang diambilnya dan meminta maaf pada teman-temannya. Padang rumput tempat Raja Tilahunga dan para pengawalnya makan itu dinamai Tuladenggi. Nama ini berasal dari kata tula yang artinya serakah.

Setelah merasa kenyang, mereka melanjutkan perjalanan. Akhirnya, tibalah mereka di tanah yang tampak subur setelah menempuh perjalanan selama beberapa hari.

Tanah berbukit-bukit itu sangat asri, apalagi Ietaknya di pinggir Danau Limboto.

Menyaksikan pemandangan yang indah itu, Raja Tilahunga tertegun. Ia berkata, “Tanah ini tampaknya subur. Bagaimana jika kita bercocok tanam di sini? Mari kita menanam sayur-sayuran dan buah-buahan.”

Para prajurit mengeluarkan peralatan berkebun mereka. Namun sayang, banyak peralatan itu yang rusak selama perjalanan. Cangkul, kapak, gergaji, semua patah tangkainya.

“Pasti kalian kurang berhati-hati membawa peralatan ini,” gumam Raja. “Tak masalah Baginda, kami bisa memperbaikinya,” jawab para pengawal.

Setelah semua peralatan diperbaiki, mereka bergotong-royong mengolah tanah itu. Ada yang mencangkul, ada yang menyebar bibit, dan sebagian lagi menyirami. Raja Tilahunga merasa betah tinggal di tempat itu. Ia menamainya Panthungo, yang berarti tangkai peralatan berkebun. Raja Tilahunga dan para pengawalnya tinggal di Panthungo selama beberapa waktu.

Mereka mendirikan rumah sederhana untuk tempat berteduh. Dugaan Raja benar, Panthungo adalah daerah yang subur. Tak perlu menunggu lama untuk memanen hasil jerih payah mereka.

Meskipun Raja Tilahunga senang tinggal di Panthungo, ia tak mungkin meninggalkan Bolango begitu saja. Jadi, hasil panen itu mereka bawa ke Bolango. Rakyat Bolango menyambut gembira kepulangan Raja Tilahunga.

Pesan moral dari Kumpulan Cerita Dongeng Anak Anak untukmu adalah jadilah anak yang rendah hati dan mau berteman dengan siapa saja. Teruslah berusaha untuk mendapatkan basil yang terbaik.

Baca kisah menarik lain pada posting berjudul Dongeng Anak Anak Bergambar dan Cerita Dongeng Anak : Ande-Ande Lumut

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan