Contoh Dongeng Sunda : Asal Usul Batu Kuwung

2351 views

Contoh Dongeng Sunda : Asal Usul Batu Kuwung menceritakan seorang pemimpin yang kikir dan sewenang-wenang terhadap rakyatnya. Kakak ingatkan ke adik-adik semua bahwa sifat kikir bukanlah sifat yang baik, kita harus mau brbagi dengan orang lain. Semakin banyak berbagi maka semakin banyak berkah yang akan kita terima. Mari belajar dari cerita rakyat Sunda ini yah adik-adik.

Contoh Dongeng Sunda : Kisah Pemimpin Yang Kikir

Contoh Dongeng Sunda Asal Usul Batu Kuwung

Contoh Dongeng Sunda Asal Usul Batu Kuwung

Pada zaman dahulu kala di daerah Banten, hiduplah seorang kepala desa yang kaya raya. Ia mempunyai banyak lahan pertanian. Namun, ia sangat kikir clan memimpin desa dengan sewenang-wenang. Ia selalu memungut pajak yang tinggi, sehingga rakyat hidup kesusahan dan seluruh penduduk membencinya. Ia juga berpikir bahwa memiliki anak dan istri adalah sebuah pemborosan. Karena itu, ia tidak mau menikah.

Di tengah penderitaan rakyat, is hidup bermewah-mewah dengan para pengawalnya.

Pada suatu hari, seorang laki-laki sakti ingin memberinya pelajaran. Laki-laki itu pun menyamar menjadi pengemis lapar berkaki pincang.

Pengemis itu datang ke rumah kepala desa itu untuk meminta makan dan sedikit uang. Bukannya memberi makan, sang kepala desa justru mendorong tubuh pengemis itu hingga terjatuh dan mencaci-makinya.

Pengemis itu lalu bangkit. "Hai, orang kaya yang angkuh, kau akan merasakan rasa lapar yang aku alami.

Keesokan harinya, saat bangun tidur, kepala desa yang kikir itu merasakan kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Ia sangat panik dengan kondisi yang dialaminya. Ia segera pengawalnya mencari tabib. Dari sekian banyak Tabib yang datang, tidak ada satu pun yang bisa menyembuhkannya. Akhirnya, Ia membuat sayembara. Siapa pun yang dapat menyembuhkannya, akan diberi setengah, dari kekayaannya

Pengemis yang kemarin diusirnya datang, "Hai, orang kaya, ini adalah akibat dari sifat sombong dan kikirmu! Hanya ada tiga hal yang bisa menyembuhkanmu!"

"Katakanlah!" sahut si kepala desa.

"Pertama, kau harus mengubah sifat sombong dan kikirmu. Kedua, bertapalah di sebuah batu cekung di gunung karang selama tujuh hari tujuh malam. Ketiga, jika kau sembuh, penuhilah janjimu. Bagikan setengah harta kekayaanmu kepada orang-orang miskin!"

Kepala desa yang kaya itu pun melakukan hal-hal yang disebutkan oleh pengemis. Ia pergi ke gunung karang dan melewati perjalanan yang melelahkan. Ia bertapa dan berdoa selama tujuh hari tujuh malam melewati berbagai godaan.

Pada hari ketujuh, tiba-tiba batu cekung itu menyemburkan sumber mata air panas. Sang kepala desa itu segera mandi. Secara ajaib, ia pun sembuh dari kelumpuhannya.

Ia kembali ke desa dan memenuhi janjinya mendermakan hartanya kepada orang-orang miskin. Ia juga akan menikahi seorang gadis anak seorang petani miskin.

Akhirnya, kepala desa yang kaya raya itu dikenal sebagai orang yang dermawan. Warga pun sangat menyayanginya.

Batu cekung tempatnya bertapa itu kini menjadi objek wisata di Kecamatan Padarincang, Ciomas, bernama Batu Kuwung. Kuwung artinya cekung. Di tempat ini, orang banyak datang untuk mandi air panas dan berdoa agar air itu berkhasiat bagi kesembuhan.

Pesan moral dari Contoh Dongeng Sunda : Asal Usul Batu Kuwung adalah jika senang memberi, kita akan mendapatkan balasan yang lebih banyak

Baca contoh cerita rakyat sunda lainnya pada artikel kami berikut ini Dongeng Si Kabayan - Cerita Rakyat Sunda (Jawa Barat) dan Cerita Rakyat Sunda : Dongeng Lutung Kasarung

Video anak islami
author
dongeng cerita rakyat adalah orang tua yang sangat yakin bahwa dengan membacakan dongeng untuk anak akan membuat ikatan kasih sayang antara orang tua dan anak semakin kuat. Sebagian besar dari isi blog ini kami terjemahkan dari cerita dongeng dunia dan sebagian lagi merupakan legenda yang ada di masyarakat Indonesia. Jika anda merasa dongeng anak atau cerita rakyat yang ada di blog kami melanggar hak cipta, mohon bantuan untuk mengisi form dan informasikan cerita anak mana yang melanggar tersebut. Akan kami hapus pada kesempatan pertama.